Tampilkan postingan dengan label Pengukuran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengukuran. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Mei 2017

Pasangan besaran pokok, satuan dan alat ukur yang tepat adalah....

Besaran
Satuan dalam SI
Alat Ukur
A.
Panjang
Km
Penggaris
B.
Waktu
Sekon
Stopwatch
C.
Suhu
Celcius
Temometer
D.
Kecepatan
km/s
speedoeter


Jawaban: B

Berdasarkan tabel yang terauk besaran pokok yaitu panjang, waktu dan suhu. ketiga besaran pokok tersebut jika dikelompokkan ke dalam satuan dan alat ukut yang tepat sesuai dengan tabel berikut:

Besaran
Satuan
Alat Ukur
Panjang
meter
Penggaris
Waktu
Sekon
Stopwatch
Suhu
kelvin
Termometer

__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________



 Desta mengukur tebal buku tulis menggunakan mikrometer sekrup hasilnya sebagai berikut.
Tebal buku yang diukur Desta adalah ..... mm

A. 4,40
B. 4,35
C. 4,30
D. 4,25







Jawaban: C

Pengukuran panjang menggunakan mikrometer sekrup dapat ditentukan dengan menjumlahkan skala tetap dan skala nonius dari hasil pengukuran ikrometer sekrup. perhitungannya sebagai berikut.

skala utama     = 4 mm
skala nonius  = 30 x 0,01 = 0,30

apabila hasil tersebut dijumlahkan akan menghasilkan:

Skala utama = 4
Skala nonius = 0,30
____________________ +
4,30 mm

jadi tebal buku yang diukur Desta adalah 4,30 mm

__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________

Suatu besaran fisika A bergantung kepada besaran fiska B dan besaran fisika C menurut persamaan




Jika A memiliki satuan m/s dan memiliki satuan newton/m^2, maka besaran fisika C adalah .....

A. Massa
B. Massa per satuan panjang
C. Massa Jenis
D. Berat Jenis

Jawaban : C

satuan besaran C dapat ditentukan dengan menghubungkan antara satuan besaran A dan besaran B berdasarkan persamaan











Jika besaran C memiliki satuan kg/m^3 sehingga besaran C merupakan massa per satuan Volume, maka besaran fisika C adalah Massa Jenis.

Sabtu, 27 Mei 2017

PENGUKURAN


Konsep: Pengukuran merupakan kegiatan membandingkan suatu besaran yang diukur dengan alat ukur yang digunakan sebagai satuan.
Misalnya, kamu melakukan kegiatan pengukuran panjang meja dengan pensil. Dalam kegiatan tersebut artinya kamu membandingkan panjang meja dengan panjang pensil. Panjang pensil yang kamu gunakan adalah sebagai satuan. Sesuatu yang dapat diukur dan dapat dinyatakan dengan angka disebut besaran, sedangkan pembanding dalam suatu pengukuran disebut satuan. Satuan yang digunakan untuk melakukan pengukuran dengan hasil yang sama atau tetap untuk semua orang disebut satuan baku, sedangkan satuan yang digunakan untuk melakukan pengukuran dengan hasil yang tidak sama untuk orang yang berlainan disebut satuan tidak baku.

Pada pembahasan Kali ini pengukuran kita akan bagi dalam beberapa sub pokok, diantaranya :
Silahkan adik-adik memilih salah satu sub materi diatas dengan meng-klik. otomatis adik-adik akan diarahkan ke materi yang dituju.


SELAMAT BELAJAR







Pengukuran adalah kegiatan membandingkan ukuran benda dengan ukuran lain yang dijadikan satuan pembanding. pengukuran juga diartikan proses membandingkan suatu besaran dengan besaran lain yang ditetepatkan sebagai satuan. 

Sementara itu, besaran adalah sesuatu yang diukur, mempunyai nilai tertentu, dinyatakan dengan angka, dan memiliki satuan tertentu. Adapun satuan adalah pernyataan yang menjelaskan dari suatu besaran. Perhatikan pernyataan berikut:

" Botol mineral bertuliskan isi bersih 1.500mL".

berdasarkan pernyataan tersebut, isi bersih merupakan besaran yang diukur, sedangkan mL menyatakan satuan besaran yang diukur.

Dalam ilmu fisika, besaran-besaran dibedakan menjadi dua, yaitu besaran pokok dan besaran turunan

1. Besaran Pokok

Besaran pokok adalah besaran yang satuannya didefinisikan terlebih dahulu dan tidak diturunkan dari besaran lainnya. Besaran pokok beserta simbolnya antara lain:


No.
Besaran Pokok
Satuan
1.
Panjang Meter (m)
2.
Massa Kilogram (kg)
3.
Waktu Sekon (s)
4.
Suhu Kelvin (K)
5.
Kuat Arus Ampere (A)
6.
Intensitas Cahaya Candela (Ca)
7.
Jumlah Zat Mol (N)

2. Besaran Turunan

Besaran turunan adalah besaran yang satuannya diturunkan dari besaran pokok. contoh dari besaran turunan dan simbolnya sebagai berikut:

No.
Besaran Pokok
Lambang Satuan
1.
Luas A
2.
Volume V
3.
Massa Jenisp
4.
Tekananp
5.
UsahaW



Besaran juga dibagi menjadi besaran skalar dan besaran vektor. Besaran skalar adalah besaran yang memiliki nilai saja tetapi tidak emiliki arah, sedangkan besaran vektor adalah besaran yang meiliki nilai dan arah. Contoh besaran skalar adalah jarak, daya, massa jeni, luas, tekanan, dan volume. sementara itu, contoh besaran vektor adalah perpindahan, kecepatan, percepatan dan momentum.







1. Satuan Baku dan Satuan Tidak Baku

Satuan baku merupakan satuan-satuan yang ditetapkan sebagai satuan pengukuran secara ilmiah. Conth satuan baku seperti meter, kilogram, dan kelvin. Sifat satuan baku adalah universal, maksudnya satuan-satuan tersebut berlaku secara internasional dan berguna ebagai standar dalam pengukuran.

Satuan tidak baku merupakan satuan-satuan yang tidak ditetapkan sebagai satuan pengukuran secara ilmiah. Satuan tidak baku sering digunakan pada daerah tertentu. Oleh karena itu, satuan tidak baku bersifat lokal. contoh satuan tidak baku seperti jengkal, hasta, depa, karung, dan kaki.

2. Satuan Internasional

Adanya perbedaan satuan di berbagai tempat, pada tahun 1960 sejumlah ilmuan mengadakan konfrensi umum internasional untuk menyepakati Satuan Sistem Internasional yang lebih dikenal dengan sebutan satuan SI.

Adanya kesepakatan tersebut, sistem satuan SI berlaku internasional. Satuan SI mempunyai nilai yang tetap dan udah dikonversi ke dalam sistem satuan sejenis lainnya. Satuan SI untuk sembilan besaran pokok dan besaran turunan akan  ditunjukkan melalui tabel berikut:



Sementara itu, satuan besaran turunan diperoleh dari hasil perumusan besaran pokok sehingga diperoleh satuan besaran turunan. Contoh satuan dari besaran turunan antara lain:




LANJUT KE MATERI BERIKUTNYA
Silahkan adik-adik memilih salah satu sub materi diatas dengan meng-klik. otomatis adik-adik akan diarahkan ke materi yang dituju.

Selasa, 19 April 2016


SILAHKAN KLIK GAMBAR UNTUK MEMPERBESAR 




















Image design by. 
Ahmad Nanang Rasyid, S.Pd., Gr.


KEMBALI KE MATERI SEBELUMNYA
Silahkan adik-adik memilih salah satu sub materi diatas dengan meng-klik. otomatis adik-adik akan diarahkan ke materi yang dituju.

Senin, 18 April 2016

Kadang-kadang kita tertarik dengan nilai pendekatan/perkiraan untuk sebuah besaran. Hal ini mungkin disebabkan karena perhitungan yang akurat akan memakan waktu yang lebih lama atau akan membutuhkan data tambahan yang tidak tersedia. Dalam kasus lain, kita mungkin ingin membuat perkiraan kasar untuk memeriksa perhitungan akurat yang dilakukan oleh kalkulator, untuk memastikan bahwa ntidak ada kesalahan dalam memasukan angka-angka.

Perkiraan kasar dibuat dengan membulatkan semua bilangan menjadi satu angka signifikan dan pangkat 10-nya, dan setelah perhitungan dilakukan, kembali hanya satu angka signifikan yang dipakai. Perkiraan seperti ini disebut perkiraan pangkat nilai dan biasa akurat dalam factor 10, dan seringkali lebih baik. Kenyataannya, istilah “pangkat nilai” kadang- kadang digunakan hanya untuk mengacu kepada pangkat 10.

Untuk memberi anda banyagan mengenai bagaimana bergunanya perkiraan kasar, mari kita lakukan beberapa contoh:

Contoh 1:

Volume Danau. Perkirakan berapa banyaknya air pada sebuah danau sepreti ditunjukkan oleh gambar dibawah, yang nyaris berbentuk lingkaran dengan diameter 1 km, dam perkiraan kedalaman rata-ratanya sekitar 10 m.


Gambar 1.1 Danau


Gambar 1.2 Model danau sebagai silinder

Penyelesaian:

Tidak ada danau yang bundar sempurna, dan tidak ada pula danau yang dasarnya rata. Di sini kita hanya mengira-ngira. Untuk memperkirakan volume, kita menggunakan model sederhana danau sebagai silinder. Kita kalikan kedalaman rata-rata danau dengan permukaannya yang hamper berupa lingkaran, seakan-akan danau tersebut berbentuk silinder. Volume V dari sebuah silinder adalah hasil kali tinggi h dengan luas dasarnya: V=hπr2 , dimana r adalah radius (jari-jari) dasar yang berbentuk lingkaran. Radius r adalah ½ km = 500 m, sehingga kira-kira

V=hπr2 = (10m) x (3) x (5x102) = 8 x 106 m3 = 107 m3,

Dimana π dibulatkan menjadi 3 angka decimal; symbol = berarti “kira-kira sama dengan”. Jadi volume tersebut berada pada pangkat 107 m3, 10 juta meter kubik. Karena semua nilai pendekatan dimasukan dalam perhitungan ini, perkiraan pangkat (107 m3) mungkin lebih baik dari angka 8 x 106 m3.


Contoh 2:

Tinggi dengan triangulasi. Perkiraan tinggi gedung yang ditunjukkan pada gambar dengan “triangulasi” dengan pertolongan tiang halte bus dan seorang teman.



Gambar 2.1 Perkiraan gedung



Gambar 2.2 Perkiraan gedung

Penyelsaian:

Dengan menyuruh teman Anda berdiri disamping tiang, Anda perkirakan tinggi tiang tesebut 3m. kemudian, Anda menjauh dari tiang itu hingga puncak tiang berada segaris dengan puncak gedung, (lihat gambar). Tinggi Anda 5 kaki 6 inci, sehingga mata anda kira-kira 1,5m di atas tanah. Teman Anda lebih tinggi, dan ketika ia merentangkan tangannya, satu tangan menyentuih anda, dan tangan lain menyentuh tiang, sehingga anda perkirakan jaraknya sekita 2m. setelah itu Anda melangkah dari tiang menuju gedung tersebut dengan langkah-langkah sepanjang 1m, dan total langkah anda 16, yang berarti jarak 16m. sekarang anda gambar, dengan skala yang tepat, diagram yang ditunjukkan pada gambar dengan menggunakan ukuran-ukuran tersebut. Anda bias mengukur, langsung pada diagram itu, sisi terakhir dari segitiga tersebut, kira-kira x = 13m. cara lain, Anda dapat menggunakan segitiga yang sama untuk mendapatkan tinggi x:




Gimanaa... Asyik kan belajar Fisika.. jadi tau deh mengukur tinggi gedung. hehehehe... :)
Salam Jabat Hati
Salam Fisika

Kamis, 14 April 2016

Adik-adik.. disekolah maupun dirumah

berikut akan ditampilkan Animasi untuk berlatih menggunakan Mikrometer Sekrup


Keterangan:
  • untuk menampikan skala, kalian bisa menggeser (atas-bawah) untuk Mikrometer bagian bawah (kiri kanan) untuk mikrometer bagian atas


Naaaahhh.. bagaimana Adik-adik... Mudah kan.. :)

kalau sudah paham, Yuk kita latihan (Quis) klik disni


QUIS MIKROMETER SEKRUP

Silahkan isi hasilnya di kolom sebelah tulisan INTERPRETACAO
kemudian ENTER
jika ingin menampilakn latihan/soal baru, silahkan click DESISTO




YAAAAAAA...
Pasti Benar Semua lah.. kan sudah Pada belajar :)
ato masih bingung??

silahkan belajar lagi yaaa ... !!!!


QUIS JANGKA SORONG

Silahkan isi hasilnya di kolom sebelah tulisan INTERPRETACAO
kemudian ENTER
jika ingin menampilakn latihan/soal baru, silahkan click DESISTO




YAAAAAAA...
Pasti Benar Semua lah.. kan sudah Pada belajar :)
ato masih bingung??

silahkan belajar lagi yaaa ... !!!!

Adik-adik.. disekolah maupun dirumah

berikut akan ditampilkan Animasi untuk berlatih menggunakan Jangka Sorong


Keterangan:
  • untuk menampikan skala, kalian bisa menggeser (kanan-kiri) skala nonius nya.
  • klik tanda didatico untuk melihat skala yang perpapasan.


Naaaahhh.. bagaimana Adik-adik... Mudah kan.. :)
Selanjutnya kalian bisa Melihat Tampilan lengkapnya dibawah ini !

berikut akan ditampilkan Animasi untuk berlatih menggunakan Jangka Sorong

Bagaimana.. ???
Sudah paham kan ???

kalau sudah, Yuk kita latihan (Quis) klik disni

PENDAHULUAN

Pengukuran besaran fisik, seperti; jarak, massa, kecepatan, tegangan, kuat arus dan sebagainya merupakan bagian penting dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. dalam melakukan pengukuran selalu dihinggapi ketidakpastian. adapun sebabnya antara lain:
    1.) Adanya nilai skala terkecil (nst) yang ditimbulkan oleh keterbatasan alat ukur tersebut. secara fisik, jarak antara dua goresan yang berdekatan dalam suatu alat ukur jarak kurang dari 1 mm. hal ini disebabkan karena mata manusia agak sukar melihat jarak kurang dari 1 mm dengan tepat.

    2.) Adanya ketidakpastian bersistem:
    • Kesalahan kalibrasi (pemberian nilai skala ketika alat ukur diproduksi ternyata kurang tepat)
    • Kesalahan titik nol (sebelum digunakan alat telah menunjuk pada suatu nilai tertentu yang tidak nol atau jarum tidak mau kembali ke titik nol secara tepat)
    • Kesalahan pegas (setelah sekian lama digunakan pegas melunak atau dari keadaan semula).
    • Gesekan pada bagian alat yang bergerak.
    • Paralaks (kesalahan arah pandang) dalam membaca skala.

    3.) Adanya ketidakpastian acak, antara lain:
    • Gerak Brown molekul udara, gerak ini dapat menggangu penunjukan jarum alat yang sangat halus.
    • Fluktuasi tegangan haringan listrik, menggangu operasional alat-alat listrik.
    • Noise (gangguan bising) dari alat0alat elektronik.
    • background, landasan bergetar dll.
    • keterbatasan keterampilan pengamat.
    Peralatan yang semakin canggig dan kompleks seperti mikroskop elektro, osiloskop, spektrometer, pencacah partikel, dll. Menurut keterampilan yang tidak sedikit dari pemakai.

    PENULISAN KESALAHAN PADA HASIL PENGUKURAN

    Pengukuran dibagi menjadi pengukuran langsung dan pengukuran tidak langsung. Pengukuran langsung merupakan pengukuran yang hasil pengukuran bisa langsung dapat diperleh tanpa memproses hasil tersebut dengan bantuan rumus-rumus, misalnya; panjang, lebar dan tinggi. sedangkan pengukuran tidak langsung merupakan pengukuran yang hasil pengukuran didapatkan dari hasil pengolahan data pengamatan dengan menggunakan rumus-rumus, misalnya; hasil pengukuran volume.

    Cara yang digunakan untuk memperkirakan dan menyatakan kesalahan bergantung pada cara pengukuran yang dilakukan yaitu; pengukuran tunggal.

    pengukuran tunggal merupakan pengukuran yang hanya dilakukan satu kali sampai tujuh kali saja (apapun alasannya). pada pengukuran tunggal, orang biasanya mengambil kebijaksanaan bahwa nilai kesalahan (ketidakpastian) nst dan hasil pengukuran dilaporkan sebagai:

    dimana: x= besaran fisis yang diukur
    = nilai terbaik pengganti nilai besaran fisis yang sebenarnya.

    Contoh 1 :
    Perhatikan gambar dibawah ini. Panjang sebuah balok diukur dengan menggunakan mistar yang memiliki skala terkecil mm. hasilnya ditulis sebagai:
    panjang balok = (6,3 +- 0,05) cm


    ini berarti pengamat menduga panjang balok itu sekitar 6,3 cm, yaitu antara 6,25 sampai 6,35 (tidak diketahui tepatnya berapa tepatnya). Dengan kata lain pengamat berkeyakinan benar, bahwa panjang balok tidak kurang dari 6,25 cm dan tidak lebih dari 6,35 cm.

    Contoh 2:
    Arus listrik menggunakan amperemeter yang skalanya kebetulan agak besar (jarak antara dua goresan terdekat lebih besar dari 1 mm) dan jarum penujuk cukup tipis (lihat gambar di bawh ini).



    Hasil pengukuran dapat dinyatakan sebagai berikut:
    kuat arus = (2,66+- 0,02) mA atau kuat Arus (2,66+-0,03)
    ini berarti pengukuran berada di antara 2,64 sampai 2,68 mA atau 2,63 sampai 2,69 mA. Ketidakpastian sebesar +- 0,02 atau +- 0,03 diambil dari 1/5 atau 1/4 (bukan 1/2 nst), karena jarak antara dua goresan yang berdekatan cukup jauh (lebih besar dari 1 mm)

    Minggu, 10 April 2016


    Jangka sorong merupakan salah satu alat ukur yang dilengkapi dengan skala nonius, sehingga tingkat ketelitiannya mencapai 0,02 mm dan ada juga yang ketelitiannya 0,05 mm. Tanpa nonius, jangka sorong mempunyai nst (nilai skala terkecil) skala utama sebesar 1 mm dan batas ukur mencapai 150 mm. Pada nonius jangka sorong biasanya didapatkan 49 skala utama sama dengan 50 bagian skala nonius. Sehingga jarak antara 2 skala nonius yang berdekatan adalah 49/50 = 0,98 mm. Jadi, nst skala nonius sebesar :


    Nst = 1 mm – 0,98 mm = 0,02 mm
    Atau        
    Nst = (nst tanpa nonius) = (1 mm) = 0,02 mm

    Ket:
    n = jumlah skala nonius
    0,02 mm merupakan nst nonius dan besarnya ketelitian jangka sorong.

    Jangka Sorong terdiri dari 2 bagian, bagian diam dan bergerak. Pembacaan hasil pengukuran sangat bergantung pada keahlian dan ketelitian pengguna maupun alat yang digunakan. Beberapa keluaran terbaru sudah dlengkapi dengan bacaan digital. pada versi analog, umumnya tingkat ketelitian adalah 0.05 mm. Untuk jangka sorong dibawah 30 cm dan 0.01 mm untuk diatas 30 cm.

    Secara umum, jangka sorong terdiri atas 2 bagian yaitu rahang tetap dan rahang geser. Jangka sorong juga terdiri atas 2 bagian yaitu skala utama yang terdapat pada rahang tetap dan skala nonius (vernier) yang terdapat pada rahang geser.

    Bagian-bagian Jangka Sorong


    bagian-bagian jangka sorong

    Ket:

    1.  Gigi luar: berfungsi untuk mengukur dimensi luar (tebal, lebar atau Ø batang kayu)
    2.  Gigi dalam: untuk pengukuran bagian dalam (lebar lubang pen, Ø lubang bor, alur dll)
    3.  Pengukur kedalaman: Paling baik untuk pengukuran dalam lubang pen, bor dan lubang alur.
    4.  Ukuran utama (cm): skala utama yang digunakan untuk membaca hasil pengukuran.
    5.  Ukuran sekunder (inch): skala alternatif dalam satuan inch.
    6.  Patokan pembacaan skala utama (cm)
    7.  Patokan pembacaan skala sekunder (inch)
    8.  Untuk menghentikan atau melancarkan geseran pengukuran.

    Kegunaan Jangka Sorong:

    • Untuk mengukur suatu benda dari sisi luar dengan cara diapit;
    • Untuk mengukur sisi dalam suatu benda yang biasanya berupa lubang (pada pipa, maupun lainnya) dengan cara diulur;
    • Untuk mengukur kedalamanan celah/lubang pada suatu benda dengan cara "menancapkan/menusukkan" bagian pengukur. Bagian pengukur tidak terlihat pada gambar karena berada di sisi pemegang.

    Mengukur Dengan Jangka Sorong

    Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat melakukan pengukuran dengan menggunakan jangka sorong, yaitu:

    1.) Sebelum melakukan pengukuran bersihkan jangka sorong dan benda yang akan diukurnya
    2.) Sebelum jangka sorong digunakan, pastikan skala nonius dapat bergeser dengan bebas.
    3.) Pastikan angka "0" pada kedua skala bertemu dengan tepat.
    4.) Sewaktu mengukur usahakan benda yang diukur sedekat mungkin dengan skala utama. Pengukuran dengan ujung gigi pengukur menghasilkan pengukuran yang kurang akurat.
    5.) Tempatkan jangka sorong tegak lurus dengan benda yang diukur.
    7.) Tekanan pengukuran jangan terlampau kuat, karena akan menyebabkan terjadinya pembengkokan pada rahang ukur maupun pada lidah pengukur kedalaman. Jika sudah pas, kencangkan baut pengunci agar rahang tidak bergeser, tetapi jangan terlalu kuat karena akan merusak ulir dari baut pengunci.
    8.) Dalam membaca skala nonius upayakan dilakukan setelah jangka sorong diangkat keluar dengan hati-hati dari benda ukur.
    9.) Untuk mencegah salah baca, miringkan skala nonius dampai hampir sejajar dengan bidang pandangan, sehingga akan memudahkan dalam melihat dan menentukan garis skala nonius yang segaris dengan skala utama.
    10.) Untuk mencegah karat, bersihkan jangka sorong dengan kain yang dibasahi oleh oli setelah dipakai.

      Karena memiliki ketelitian mencapai 0,02 mm, jangka sorong dapat digunakan untuk mengukur diameter luar, diameter dalam, dan ketinggian suatu benda dengan lebih teliti. Beikut adalah langkah - langkah penggunaan jangka sorong dalam pengukuran dimensi benda ukur :

      A). Mengukur diameter luar
      Mengukur diameter luar

       Gambar 2.2 Jangka sorong digunakan untuk mengukur diameter luar


      Untuk mengukur diameter luar sebuah benda (misalnya kelereng) dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut

      • Geserlah rahang geser jangka sorong kekanan sehingga benda yang diukur dapat masuk diantara kedua rahang (antara rahang geser dan rahang tetap)
      • Letakkan benda yang akan diukur diantara kedua rahang.
      • Geserlah rahang geser kekiri sedemikian sehingga benda yang diukur terjepit oleh kedua rahang
      • Catatlah hasil pengukuran anda

      Perhatikan animasi dibawah ini !


      B). Mengukur diameter dalam

      Mengukur diameter dalam



      Gambar 2.3 Jangka sorong digunakan untuk mengukur diameter dalam


      Untuk mengukur diameter dalam sebuah benda (misalnya diameter dalam sebuah cincin) dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut :

      • Geserlah rahang geser jangka sorong sedikit kekanan.
      • Letakkan benda/cincin yang akan diukur sedemikian sehingga kedua rahang jangka sorong masuk ke dalam benda/cincin tersebut
      • Geserlah rahang geser kekanan sedemikian sehingga kedua rahang jangka sorong menyentuh kedua dinding dalam benda/cincin yang diukur
      • Catatlah hasil pengukuran anda


      C). Mengukur kedalaman

      Mengukur kedalaman

      Gambar 2.4 Jangka sorong digunakan untuk mengukur kedalaman


      Untuk mengukur kedalaman sebuah benda/tabung dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut :

      • Letakkan tabung yang akan diukur dalam posisi berdiri tegak.
      • Putar jangka (posisi tegak) kemudian letakkan ujung jangka sorong ke permukaan tabung yang akan diukur dalamnya.
      • Geserlah rahang geser kebawah sehingga ujung batang pada jangka sorong menyentuh dasar tabung.
      • Catatlah hasil pengukuran anda.



      Perhatikan animasi dibawah ini !


      Untuk membaca hasil pengukuran menggunakan jangka sorong dapat dilakukan dengan langkah :
      1). Bacalah skala utama yang berimpit di depan titik nol pada skala nonius (SU).
      2). Bacalah skala nonius yang tepat berimpit dengan skala utama (SN).
      3). Hasil pengukuran dinyatakan dengan persamaan :
                 


       Hasil = SU + (SN x nst jangka sorong, mis:0,01 mm)


      menghitung pembacaan skala







      Pada gambar di atas skala utama (SU) 62 mm. Skala nonius (SN) 4 skala.
      Sehingga, didapatkan hasil pengukuran sebesar :
      H = SU + (SN x 0,1 mm)
      = 62 mm +( 4 . 0,1 mm)
      = 62 mm + 0,4 mm
      = 62,4 mm



      PEMBACAAN JANGKA SORONG UNTUK SATUAN METRIS
      Nonius Puluhan

      nonius puluhan

      Dari gambar di atas dperoleh hasil pengukuran sebesar 31,4 mm, yakni diperoleh dari: 31+4(0,1) = 31,4


      Nonius Duapuluhan


      nonius dua puluhan

      Nonius Limapuluhan

      nonius lima puluhan

      LATIHAN YUKK MENGGUNAKAN JANGKA SORONG !!! klik disini

      FIISKA SMP

      Select Language

      Popular Posts

      LATIHAN UJIAN NASIONAL